Harga Emas kembali melampaui 5.000 dolar AS per ons pada Rabu, 4 Februari 2026, ketika pembeli masuk lagi setelah penurunan tajam yang sempat mengguncang pasar logam mulia. Perak ikut menguat, lalu memimpin reli dengan kenaikan harian yang jauh lebih besar.

Pergerakan ini muncul setelah dua hari yang membuat banyak pelaku pasar terkejut. Dalam waktu singkat, sentimen berubah dari euforia ke panik, lalu kembali ke mode berburu peluang. Barron’s mencatat perubahan itu terjadi di tengah perhatian besar investor pada arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Lonjakan Mendadak Di Pasar Logam Mulia

Pasar logam mulia biasanya diposisikan sebagai tempat berlindung saat ketidakpastian naik. Namun, dua pekan terakhir memperlihatkan hal yang lebih rumit. Harga bisa bergerak agresif, walau narasinya masih memakai kata yang sama: aman, lindung nilai, dan proteksi.

Kali ini, investor melihat dua cerita berjalan beriringan. Di satu sisi, mereka mencari aset yang dianggap tahan guncangan. Di sisi lain, mereka bereaksi cepat saat pasar menebak siapa yang akan memimpin The Fed dan bagaimana suku bunga bergerak sesudahnya.

Harga Emas Kembali Melewati 5.000 Dolar

Harga Emas naik sekitar 3 persen pada awal perdagangan Rabu, lalu sempat menyentuh 5.083,80 dolar per ons di pasar berjangka. Kenaikan itu memperpanjang reli dua hari yang menghapus sebagian tekanan besar dari awal pekan.

Pergerakan Rabu tidak berdiri sendiri. Sehari sebelumnya, kontrak emas mencatat lonjakan sekitar 6 persen dan mendekati 5.000 dolar. Data pasar menunjukkan kenaikan harian itu menjadi yang terbesar secara persentase sejak Maret 2009, sebuah pembanding yang jarang muncul dalam berita komoditas normal.

Namun, penutupan perdagangan memberi gambaran yang lebih seimbang. Kontrak emas bulan terdepan ditutup di sekitar 4.920,40 dolar per ons. Artinya, harga memang pulih, tetapi pasar masih menimbang apakah reli ini menjadi kelanjutan tren, atau hanya pantulan setelah jatuh terlalu dalam.

Banyak manajer aset membaca fase ini sebagai koreksi berlapis. Saat harga turun terlalu cepat, pelaku pasar yang menunggu di pinggir masuk dan membeli. Setelah itu, pembeli lain ikut mengejar, karena mereka takut ketinggalan momentum.

Perak Memimpin Reli Dan Memicu Spekulasi

Perak bergerak lebih liar dibanding emas. Kontrak perak naik sekitar 10 persen pada awal perdagangan Rabu, lalu sempat berada di 91,66 dolar per ons. Angka itu menonjol karena perak sering bereaksi lebih keras ketika arus spekulatif membesar.

Penutupan hari itu juga tetap tinggi meski tidak setinggi puncaknya. Kontrak perak bulan terdepan ditutup di sekitar 84,16 dolar per ons. Perbedaan antara puncak intraday dan penutupan menunjukkan pelaku pasar masih tarik menarik soal valuasi.

Penurunan sebelumnya membuat perak terlihat “murah” bagi pemburu pantulan. Dalam dua hari perdagangan sampai Senin, perak sempat jatuh sekitar 33 persen. Saat volatilitas setinggi itu muncul, trader jangka pendek biasanya memperbesar posisi, lalu mempercepat ayunan harga.

Di sisi lain, perak punya identitas ganda. Investor memperlakukan perak sebagai aset moneter, tetapi industri juga menyerap perak untuk kebutuhan produksi. Kombinasi ini sering membuat perak tampak kuat ketika sentimen membaik, tetapi juga rentan ketika ketakutan mendadak muncul.

Harga Emas Naik Lagi Setelah Pasar Menilai Respons Fed

Perubahan harga kali ini tidak bisa dilepas dari politik penunjukan pejabat ekonomi Amerika Serikat. Pada Jumat sebelumnya, pasar mendapat kabar bahwa Kevin Warsh akan menjadi kepala The Fed berikutnya. Banyak pelaku pasar menilai Warsh cenderung hawkish, yaitu lebih ketat terhadap inflasi dan lebih siap menahan suku bunga tetap tinggi.

Situasi ini langsung menyentuh logam mulia. Emas dan perak sering diuntungkan ketika suku bunga riil turun atau dolar melemah. Sebaliknya, ketika pasar membayangkan suku bunga bertahan tinggi, biaya peluang memegang emas naik, lalu minat bisa berkurang.

Harga Emas Tertekan Setelah Nama Warsh Muncul

Harga Emas sempat kehilangan daya tarik “safe haven” sesaat setelah kabar penunjukan Warsh beredar. Logikanya sederhana. Jika bank sentral lebih ketat, imbal hasil aset berbunga bisa terlihat lebih menarik dibanding emas yang tidak memberi kupon.

Reaksi pasar juga terjadi karena prosesnya terasa cepat. Ketika investor menangkap sinyal hawkish, mereka tidak menunggu konfirmasi tambahan. Mereka langsung mengurangi posisi, lalu menekan harga dalam waktu singkat.

Data perdagangan menunjukkan emas turun lebih dari 13 persen dalam dua hari sampai Senin. Penurunan secepat itu membuat sebagian investor mempertanyakan apakah pasar terlalu emosional. Pada titik ini, koreksi berubah menjadi peluang bagi pembeli yang lebih sabar.

Advertisements

Ada juga faktor psikologis yang kuat. Level 5.000 dolar menjadi angka yang “berbicara” bagi pasar. Saat harga turun jauh dari area itu, sebagian pelaku pasar menilai harga sudah kelewat diskon, lalu mereka masuk dan mengangkat harga lagi.

Dolar, Imbal Hasil, Dan Sentimen Risiko Beradu Cepat

Pergerakan emas dan perak sering berputar di sekitar dua variabel utama, yaitu dolar dan imbal hasil obligasi. Saat dolar menguat, harga logam mulia dalam dolar biasanya terasa lebih mahal bagi pembeli global. Saat imbal hasil naik, minat pada aset tanpa bunga juga bisa menurun.

Namun, hubungan itu tidak selalu rapi. Dalam beberapa sesi terakhir, pasar seperti berebut narasi. Ada momen ketika investor membeli dolar karena defensif, tetapi juga membeli emas karena proteksi. Akibatnya, harga bergerak tajam dan kadang terlihat “tidak konsisten”.

Di sisi lain, berita soal arah The Fed membuat banyak manajer portofolio menata ulang posisi. Mereka mengurangi risiko di satu aset, lalu menambah lindung nilai di aset lain. Rotasi cepat seperti ini sering membuat grafik harga tampak zig zag.

Investor institusional juga memantau posisi spekulan dan kebutuhan margin. Saat harga anjlok, margin call bisa memaksa penjualan tambahan. Ketika tekanan itu mereda, pantulan bisa terjadi dengan cepat, seperti yang terlihat pada emas dan perak pekan ini.

Pembeli Dip Dan Risiko Volatilitas Yang Belum Selesai

Kembalinya reli tidak otomatis berarti pasar kembali tenang. Pergerakan dua hari terakhir menunjukkan satu hal: likuiditas dan sentimen bisa mengubah arah harga dalam hitungan jam. Kondisi ini menguntungkan trader yang gesit, tetapi bisa menyulitkan investor yang masuk tanpa rencana.

Selain itu, reli setelah jatuh tajam sering memancing rasa percaya diri berlebihan. Padahal, pasar masih berada dalam fase menilai ulang. Pelaku pasar belum sepakat apakah penurunan kemarin hanya reaksi sesaat, atau awal dari fase baru yang lebih ketat untuk logam mulia.

Harga Emas Menarik Pembeli Setelah Penurunan Dua Hari

Harga Emas terlihat memancing pembeli karena penurunannya terjadi terlalu cepat. Banyak pelaku pasar menilai penurunan seperti itu lebih dipicu posisi yang dipaksa keluar, bukan perubahan fundamental yang rapi.

Seorang strategis dari Deutsche Bank, Jim Reid, menggambarkan situasinya sebagai kembalinya pembeli saat harga turun, setelah “slump” besar yang jarang terjadi. Intinya, pasar melihat diskon besar, lalu mereka bereaksi dengan pembelian agresif.

Aksi beli ini juga dipicu oleh cara pasar bekerja. Saat harga naik sedikit setelah jatuh, sinyal teknikal bisa memicu pembelian tambahan. Trader yang semula menunggu konfirmasi ikut masuk. Hasilnya, kenaikan berubah cepat menjadi reli dua hari.

Namun, pembeli tetap menghadapi pertanyaan besar. Jika narasi hawkish The Fed bertahan, emas bisa kembali ditekan ketika pasar fokus pada suku bunga dan dolar. Karena itu, banyak pembeli menahan euforia dan tetap pasang batas risiko.

Mengapa Investor Diminta Tidak Terlalu Percaya Pada Stabilitas

Emas punya reputasi sebagai aset “tenang”, tetapi kenyataan di pasar berjangka sering berbeda. Leverage, aliran dana cepat, dan headline politik bisa mendorong harga bergerak jauh dari rata ratanya. Ini yang terlihat pada dua hari jatuh, lalu dua hari bangkit.

Perak membawa risiko yang lebih besar. Kenaikan 10 persen dalam satu sesi terdengar menarik, tetapi penurunan puluhan persen dalam beberapa hari juga nyata. Investor ritel sering masuk ketika reli sudah berjalan, lalu kaget ketika volatilitas balik arah.

Karena itu, manajer portofolio biasanya memakai pendekatan bertahap. Mereka membagi ukuran posisi, menghindari satu titik masuk, dan menetapkan rencana keluar sejak awal. Pendekatan ini terasa membosankan, tetapi biasanya lebih aman di pasar yang mudah berubah.

Di sisi lain, investor jangka panjang tetap melihat fungsi logam mulia sebagai diversifikasi. Mereka tidak mengejar pergerakan harian. Mereka memantau kebijakan moneter, inflasi, dan risiko geopolitik. Saat faktor faktor itu bergerak, harga juga ikut berubah.

Harga Emas yang kembali menembus 5.000 dolar memberi sinyal bahwa pasar belum selesai dengan cerita safe haven, walau arahnya masih bisa berbelok kapan saja. Kalau kamu mau lihat lanjutan dampak kebijakan The Fed ke komoditas dan pasar global, lanjutkan baca artikel terkait lain di Insimen.

Leave a Reply