Warsh belum tampil di publik sejak Donald Trump mengumumkan ia sebagai calon ketua Federal Reserve lewat unggahan media sosial. Ketidakhadiran itu membuat banyak ekonom mengendus perubahan gaya komunikasi bank sentral. Pada 2017, Trump menampilkan Jerome Powell di Rose Garden saat pengumuman, lalu Powell memberi janji soal kesiapan Fed menghadapi risiko ekonomi.

Kali ini suasananya jauh lebih sunyi. Trump mengumumkan pilihan Warsh pada Jumat, 30 Januari 2026, tetapi kandidatnya tidak ikut tampil dan tidak memberi pernyataan publik dalam beberapa hari setelahnya. Para ekonom menilai pola seperti ini jarang terjadi, karena proses penunjukan ketua Fed selama hampir 30 tahun biasanya diiringi momen publik yang jelas.

Advertisements

Warsh sudah lama mengkritik kebiasaan pejabat Fed yang terlalu sering memberi komentar. Ia menilai terlalu banyak pidato membuat pasar menangkap sinyal yang saling bertabrakan. Dennis Lockhart juga menyebut keluhan soal terlalu banyak pidato sudah lama muncul, dan sebagian pelaku pasar menyebutnya sebagai “kakofoni” yang justru membingungkan. Di era lama, pendekatan diam malah jadi standar, dan Montagu Norman terkenal dengan moto, “Never explain, never excuse.”

Namun Fed modern sengaja membuka diri karena kebijakan suku bunga bekerja lewat ekspektasi pasar dan transmisi ke kondisi finansial. Jika Warsh mengurangi panduan, pasar bisa mengisi kekosongan itu dengan asumsi yang keliru, lalu volatilitas saham dan obligasi bisa naik. Praktiknya bisa terlihat dari hal sederhana. Powell saat ini menggelar delapan konferensi pers per tahun, dan analis pasar memperkirakan Warsh bisa memilih gaya yang lebih ringkas dan tidak terlalu scripted. Kalau Fed memang lebih hemat bicara saat tidak ada krisis, pasar mungkin belajar membaca data sendiri. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa kamu temukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply