Palantir membuat Wall Street bangun dengan mode risk on pada Selasa, 3 Februari 2026. Kontrak berjangka S&P 500 bergerak naik sekitar 0,1% sampai 0,3%, lalu kontrak berjangka Nasdaq 100 naik sekitar 0,4% sampai 0,5%, sementara Dow cenderung datar dengan perubahan tipis.

Laporan kinerja kuartalan Palantir menjadi pemantik utama reli prapembukaan. Perusahaan membukukan pendapatan kuartal US$1,41 miliar dan mencatat kenaikan 70% secara tahunan. Penjualan inti di pasar Amerika Serikat juga melaju 93% secara tahunan. Alex Karp menyebut, “kami melampaui ekspektasi internal yang paling ambisius,” lalu pasar menangkap pesan yang sederhana. Belanja AI belum kehabisan tenaga, dan tema AI masih punya bensin untuk mendorong valuasi.

Data ekonomi ikut memberi angin tambahan. Institute for Supply Management mencatat survei manufaktur Januari di 52,6, sementara konsensus ekonom berada di 48,9. Angka di atas 50 biasanya memberi sinyal ekspansi, jadi pelaku pasar membaca pertumbuhan masih bertahan. Imbal hasil Treasury pun naik tipis. Yield 2 tahun berada di sekitar 3,573%, yield 10 tahun di sekitar 4,280%, dan yield 30 tahun di sekitar 4,914%. Di sisi lain, shutdown parsial pemerintah Amerika Serikat membuat sebagian rilis data berkurang, termasuk rilis data pekerjaan yang biasanya muncul pada Jumat, sehingga pasar bisa lebih tenang untuk sementara.

Advertisements

Komoditas ikut ramai. Harga emas memantul dan naik sekitar 6% ke US$4.934 per ons, lalu harga perak melesat sekitar 12% ke US$86,36 per ons. Harga minyak cenderung melemah saat pasar menimbang kabar upaya diplomasi Amerika Serikat dan Iran, sementara Bitcoin relatif stabil setelah aksi jual. Dolar melemah, dan indeks DXY turun tipis ke sekitar 97,419 setelah muncul kabar Donald Trump memilih Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve. Isu dagang juga naik ke permukaan, karena kabar menyebut Amerika Serikat menurunkan tarif impor barang India menjadi 18% dengan imbalan India menghentikan pembelian crude Rusia. Jika India benar benar berhenti, Rusia berpotensi kesulitan mencari pembeli pengganti saat India pada Desember tercatat mengimpor sekitar 1,36 juta barel per hari dan Rusia menawarkan diskon sekitar US$20 per barel dibanding Brent.

Pasar terlihat kompak hari ini, dan itu biasanya terjadi saat uang besar merasa ceritanya masih seru. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.


Eksplorasi konten lain dari Insimen

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Samuel Berrit Olam

Start your dream.

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Insimen

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca