Pasokan listrik menjadi isu utama ketika Google mempercepat ekspansi pusat data AI di Amerika Serikat. Perusahaan itu kini menautkan strategi komputasi, properti lahan, dan energi dalam satu paket, agar proyek pusat data tidak tersendat karena jaringan listrik lokal penuh.
Pasokan Listrik Menjadi Titik Kritis Ekspansi Pusat Data AI
Pertumbuhan komputasi untuk AI membuat konsumsi listrik pusat data melompat. Masalahnya, penambahan pembangkit baru dan penguatan transmisi sering tidak bisa mengejar ritme itu. Banyak wilayah akhirnya melihat listrik sebagai bottleneck, bukan lagi chip atau lahan.
Di sisi lain, operator jaringan dan regulator juga mulai memotret risiko biaya. Mereka menilai lonjakan beban dari pusat data berpotensi menekan tarif, terutama saat beban puncak. Diskusi pun bergeser dari “siapa dapat sambungan duluan” menjadi “siapa yang menanggung biayanya”.
PJM Interconnection Mulai Mengukur Batas Pasokan Listrik
PJM Interconnection, pasar listrik terbesar di AS, sudah merasakan tegangnya sistem ketika cuaca ekstrem datang. Pada gelombang dingin akhir Januari 2026, beban listrik PJM sempat mendekati rekor musim dingin, dan sebagian pembangkit mengalami gangguan operasi.
Kondisi itu ikut memukul harga spot. Beberapa zona sempat melihat lonjakan harga hingga ribuan dolar per MWh ketika pasokan gas ketat dan aliran listrik tersumbat kemacetan transmisi. Harga lalu turun saat kondisi membaik, tetapi pola “naik tajam lalu turun” membuat risiko biaya makin sulit diprediksi.
Selain itu, lembaga reliabilitas kawasan juga mengingatkan tren yang lebih panjang. North American Electric Reliability Corporation menilai cadangan daya di beberapa wilayah dapat menipis dalam beberapa tahun, karena permintaan naik dan bauran pembangkit berubah. Pusat data ikut menjadi salah satu pendorong yang paling cepat.
Biaya Jaringan Naik, Publik Mulai Bertanya
Ketika pasokan listrik mengetat, beban puncak menjadi momen paling mahal. Pada saat seperti itu, jaringan memprioritaskan keandalan, dan sistem sering memakai pembangkit yang lebih mahal atau kurang efisien. Akibatnya, konsumen melihat efeknya lewat harga grosir yang merembet ke tagihan.
Situasi ini membuat pemerintah daerah dan kelompok advokasi mendorong aturan baru. Mereka ingin pusat data baru ikut berbagi risiko, misalnya lewat kewajiban fleksibilitas beban atau komitmen membeli kapasitas tambahan. Tujuannya sederhana, jangan sampai biaya inovasi jatuh ke rumah tangga.
Di pasar seperti PJM, tekanan itu juga mendorong penyusunan aturan koneksi beban besar yang lebih ketat. Federal Energy Regulatory Commission ikut meminta kerangka yang lebih jelas untuk layanan dan perlindungan reliabilitas, karena permintaan dari pusat data terus mengantre.
Akuisisi Intersect Mengubah Strategi Infrastruktur Alphabet
Di tengah narasi krisis daya, Alphabet memilih jalur yang lebih agresif. Perusahaan itu meneken rencana akuisisi Intersect senilai US$4,75 miliar dalam bentuk tunai, sekaligus mengambil alih sebagian kewajiban utang. Langkah ini menempatkan pengembangan energi dan kampus pusat data di bawah satu payung yang sama.
Alphabet juga sudah punya kepemilikan minoritas di Intersect sebelum transaksi ini muncul. Dengan akuisisi penuh, perusahaan ingin mempercepat pembangunan kapasitas pusat data, sekaligus memperluas opsi pengadaan listrik di lokasi yang rawan kekurangan daya.
Di banyak proyek baru, pasokan listrik dari utilitas sering datang belakangan dibanding jadwal pembangunan gedung. Karena itu, Alphabet ingin punya kendali lebih awal atas desain energi, jadwal konstruksi, dan opsi cadangan.
Intersect Membawa Peta Proyek Dan Jalur Pasokan Listrik
Intersect membawa portofolio proyek energi dan infrastruktur data center yang besar. Reuters menyebut Intersect memiliki sekitar US$15 miliar aset yang operasional atau sedang dibangun, dengan proyeksi proyek yang bisa menghasilkan 10,8 gigawatt listrik pada 2028. Skala ini memberi Alphabet jalur pasokan listrik yang lebih “siap pakai” untuk kampus baru.
Namun, akuisisi ini tidak berarti Alphabet mengambil semua aset Intersect. Sejumlah operasi di Texas dan California disebut tetap berada di luar transaksi, dan masih berjalan bersama investor Intersect yang ada. Struktur ini membuat Alphabet bisa fokus ke proyek pengembangan baru, tanpa harus mengubah operasi yang sudah berjalan.
Di Texas, Intersect juga mengembangkan sistem penyimpanan energi Quantum yang berdekatan dengan pusat data Google. Proyek seperti ini penting karena baterai dapat membantu menstabilkan beban, terutama saat pasokan listrik lokal naik turun.
Model Baru, Teknologi Ikut Menanggung Biaya
Akuisisi ini muncul bersamaan dengan dorongan politik agar perusahaan teknologi ikut menanggung biaya pembangkit baru. Pemerintahan Donald Trump mendorong skema kontrak jangka panjang dan lelang darurat, dengan pesan yang tegas soal “biaya yang adil” untuk pusat data.
Gagasannya menempatkan pusat data sebagai pelanggan besar yang harus membawa solusi, bukan hanya meminta sambungan. Jika perusahaan tidak membangun kapasitas sendiri atau tidak bersedia menjadi beban yang bisa diputus, biaya pengadaan pembangkit baru bisa dialokasikan lebih besar ke mereka.
Bagi Alphabet, membeli Intersect membuat posisi tawar lebih kuat. Perusahaan bisa merancang kampus pusat data sekaligus menyiapkan pembangkit atau storage pendukung, lalu menegosiasikan integrasinya dengan jaringan. Strategi ini juga memberi sinyal ke pesaing, bahwa perang AI kini ikut pindah ke arena pasokan listrik.
Kontrak Energi 24 Jam Dan Respons Beban
Alphabet tidak hanya mengandalkan satu transaksi. Google menumpuk beberapa jalur pasokan, dari nuklir generasi baru sampai panas bumi, lalu menambah program fleksibilitas beban. Tujuannya bukan sekadar listrik hijau, tetapi listrik yang tersedia setiap jam.
Pendekatan ini menjawab dua masalah sekaligus. Pertama, jaringan sering kekurangan kapasitas pada jam tertentu. Kedua, sumber energi terbarukan yang bergantung cuaca perlu penopang agar pusat data bisa jalan stabil. Karena itu, kontrak 24 jam menjadi kata kunci di banyak proyek baru.
Google Mengunci Pasokan Listrik Lewat Nuklir Kairos
Pada Oktober 2024, Google menandatangani kesepakatan korporat untuk membeli listrik nuklir dari beberapa reaktor modular kecil yang dikembangkan Kairos Power. Rencana itu menargetkan total 500 MW sampai 2035, dengan unit awal diproyeksikan online sekitar 2030.
Untuk Google, daya nuklir memberi profil produksi yang lebih stabil dibanding surya atau angin. Stabilitas ini membantu pusat data menjaga uptime, sekaligus mengurangi kebutuhan backup yang mahal. Di saat yang sama, proyek nuklir membutuhkan izin dan jadwal yang panjang, sehingga Google tetap menyiapkan opsi lain di depan.
Kolaborasi nuklir ini juga melibatkan utilitas publik. Tennessee Valley Authority bekerja sama dalam struktur yang menambah energi bersih ke jaringan yang melayani pusat data di beberapa negara bagian. Model ini menunjukkan bahwa “pasokan listrik” tidak selalu berarti pembangkit berdiri tepat di belakang pagar pusat data.
Panas Bumi Fervo Dan Demand Response Di Texas
Google juga mendorong panas bumi sebagai sumber 24 jam. Dalam kerja sama dengan Fervo Energy, proyek enhanced geothermal di Nevada mulai mengalirkan listrik bebas karbon ke jaringan lokal yang melayani pusat data. Google dan mitranya menargetkan skala yang lebih besar, termasuk rencana pasokan 115 MW untuk daya 24 jam.
Selain menambah suplai, Google mempraktikkan demand response untuk menurunkan beban saat jaringan ketat. Google Cloud menjelaskan bahwa timnya bisa menggeser sebagian komputasi yang tidak mendesak ke waktu atau lokasi lain, sehingga konsumsi listrik pusat data turun tanpa mengganggu layanan.
Texas menjadi pasar kunci untuk pendekatan ini. Negara bagian itu memberi kewenangan kepada operator jaringan, ERCOT, untuk memutus beban besar saat krisis, dan aturan baru memasangkan kewajiban pemangkasan dengan program respons beban sukarela. Bagi Google, ini berarti strategi pasokan listrik harus selalu berjalan beriringan dengan strategi fleksibilitas beban.
Di akhir hari, perburuan kapasitas komputasi AI kini menuntut satu hal yang lebih klasik, yaitu listrik yang cukup, stabil, dan terjangkau. Akuisisi Intersect, kontrak nuklir, panas bumi, dan demand response memperlihatkan cara Google menutup celah itu. Untuk konteks lanjutan, pembaca bisa lanjut ke artikel terkait di Insimen.









