TSMC kembali naik ke panggung geopolitik karena banyak pihak menilai satu perusahaan ini bisa memicu krisis global. Dalam sebuah analisis video, pembicara menempatkan TSMC sebagai pusat gravitasi teknologi modern yang menopang ekonomi sipil sekaligus kemampuan militer negara besar.
Argumennya sederhana dan terasa mengganggu. Dunia digital bergantung pada chip. Ponsel, laptop, pusat data, hingga perangkat industri berjalan karena semikonduktor. Pembicara menyebut 92 persen chip paling canggih hanya bisa diproduksi di satu titik yang sama. Titik itu adalah fasilitas TSMC di Taiwan.
Ketergantungan itu tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal sumber daya harian. Pembicara menyatakan pabrik TSMC membutuhkan sekitar 156.000 ton air bersih per hari. Pembicara juga menyebut konsumsi listrik TSMC mencapai sekitar 7 persen dari total listrik Taiwan. Jika produksi berhenti satu hari, pembicara menaksir ekonomi global bisa kehilangan sekitar 5 miliar dolar per hari. Ia menyebut kondisi ini sebagai “kill switch” bagi ekonomi dunia.
Dari sini, cerita bergeser ke persaingan Amerika Serikat dan China. Pembicara menilai perebutan utama bukan sekadar wilayah, tetapi kendali atas teknologi komputasi. Chip AI ia posisikan sebagai komponen strategis yang memperkuat drone, misil, dan sistem pertahanan modern karena sistem itu membutuhkan pemrosesan cepat untuk mengunci target dan mengotomatiskan keputusan.
Pembicara lalu menjelaskan mengapa TSMC sulit digantikan. Ia menekankan netralitas model foundry. Ia menekankan kurva belajar manufaktur yang panjang. Ia menekankan budaya respons cepat yang ia sebut seperti ruang perang ketika mesin bernilai sangat mahal bermasalah.
Penutupnya lebih gelap. Pembicara mengangkat konsep “perisai silikon” dan skenario ekstrem berupa penghancuran fasilitas agar teknologi tidak berpindah kendali jika situasi memburuk. Jika rantai chip putus, harga perangkat melonjak dan peradaban digital melambat. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









