Tokenomics sering terlihat seperti bagian teknis yang membosankan, tapi justru di sinilah banyak “jebakan” disembunyikan. Banyak proyek terlihat meyakinkan di permukaan, padahal desain ekonominya membuat harga token rentan ditekan dalam jangka menengah. Investor ritel biasanya fokus ke narasi dan grafik harga. Sementara pelaku awal fokus ke jadwal pasokan token yang akan membanjiri pasar.

Hal pertama yang perlu dibedah adalah total supply dan inflasi. Ada proyek yang supply-nya terbatas, ada juga yang terus bertambah lewat emisi, reward, atau insentif ekosistem. Kalau supply bertambah tanpa permintaan yang tumbuh sepadan, tekanan jual bisa jadi “pajak” yang tak terlihat. Token terasa selalu berat naik karena setiap kenaikan harga langsung disambut token baru yang masuk pasar.

Bagian berikutnya adalah distribusi. Persentase untuk tim, VC, foundation, dan komunitas menentukan siapa yang paling diuntungkan lebih dulu. Kalau porsi tim dan investor awal terlalu besar, publik sering kebagian “sisa cerita”. Ini makin berbahaya saat transparansi rendah atau alokasi komunitas hanya terlihat besar di kertas, tapi praktiknya terkunci dan sulit diakses.

Advertisements

Yang paling sering memicu drama adalah vesting dan unlock schedule. Jadwal unlock adalah kalender tekanan jual. Saat token tim atau VC mulai cair, mereka secara teknis punya kesempatan realisasi profit. Di titik inilah banyak chart tiba tiba melemah bukan karena produk gagal, tapi karena pasokan baru masuk pasar dalam jumlah besar.

Terakhir, utility. Banyak token dipoles dengan label “untuk ekosistem”, tapi tidak punya fungsi yang benar benar dibutuhkan. Kalau token tidak dipakai untuk sesuatu yang nyata, ia cuma jadi tiket spekulasi. Dan spekulasi biasanya setia sampai musim berganti.

Kesimpulannya sederhana. Tokenomics bukan catatan kaki. Ia sering jadi naskah utama yang menentukan siapa untung duluan. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply